Nur Azlan, S.Pd, guru di SD Negeri 17 Teluk Lanus, membagikan pengalamannya setelah mengikuti DiklatNas 40JP mengenai Integrasi Pembelajaran Mendalam dalam Kurikulum Tahun Ajaran Baru 2025/2026. Menurut Nur Azlan, diklat ini memberikan wawasan komprehensif tentang bagaimana menerapkan strategi pembelajaran mendalam untuk meningkatkan kualitas pendidikan, keterlibatan siswa, dan efektivitas proses belajar mengajar di kelas.
Dalam penerapan strategi pembelajaran mendalam, Nur Azlan menekankan beberapa langkah penting. Pertama, pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan kurikulum terbaru. RPP ini dirancang dengan mempertimbangkan kesiapan peserta didik, karakteristik materi, dan dimensi profil lulusan yang ingin dicapai. Langkah kedua adalah menerapkan prinsip pembelajaran mendalam yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful), sehingga proses belajar menjadi menyenangkan sekaligus menantang bagi siswa. Strategi ini dilakukan melalui metode pembelajaran aktif, partisipatif, dan reflektif, yang mendorong siswa berpikir kritis dan terlibat secara nyata dalam pembelajaran.
Selain itu, integrasi teknologi digital menjadi bagian penting dari penerapan metode ini. Nur Azlan menggunakan e-learning, simulasi, dan augmented reality untuk mendukung pembelajaran yang lebih personal dan interaktif. Integrasi kecerdasan buatan (AI) dan pemrograman atau coding sebagai muatan lokal juga diterapkan untuk memperluas wawasan dan keterampilan siswa di era digital. Tak kalah penting, asesmen pembelajaran mendalam diterapkan melalui asesmen awal, formatif, dan sumatif, dengan metode portofolio, proyek, dan presentasi autentik untuk menilai kompetensi siswa secara holistik.
Beberapa materi diklat yang paling berkesan bagi Nur Azlan antara lain prinsip pembelajaran mendalam, pengembangan RPP, integrasi teknologi digital, asesmen pembelajaran mendalam, dan pengembangan kompetensi guru. Materi-materi ini tidak hanya memberikan pengetahuan baru, tetapi juga inspirasi untuk mengimplementasikan pembelajaran yang lebih mendalam dan bermakna di kelas.
Tantangan dalam penerapan metode ini juga dihadapi, seperti keterbatasan sumber daya, keterampilan guru, kesiapan siswa, pengelolaan waktu, dan evaluasi yang holistik. Namun, Nur Azlan mengatasi hal ini melalui kerja sama dengan rekan guru, pengembangan profesional berkelanjutan, pemanfaatan sumber daya yang tersedia, dan komunikasi aktif dengan siswa untuk menyesuaikan strategi pembelajaran.
Dampak positif dari penerapan pembelajaran mendalam mulai terlihat, termasuk peningkatan kualitas pembelajaran, keterlibatan siswa yang lebih tinggi, perubahan peran guru menjadi fasilitator, penggunaan teknologi yang lebih efektif, dan asesmen yang lebih holistik. Siswa menjadi lebih kritis, aktif berdiskusi, dan mampu menerapkan pengetahuan dalam konteks nyata.
Secara keseluruhan, pengalaman Nur Azlan menunjukkan bahwa integrasi pembelajaran mendalam membawa transformasi positif dalam proses belajar mengajar. Dengan strategi yang tepat, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif, menyenangkan, dan mampu meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan.