Siti Jum’ati, S.Pd., seorang Guru BK di SMPN 5 Tanta, baru saja mengikuti sebuah diklat tentang strategi pembelajaran dan layanan bimbingan konseling (BK). Pengalaman ini meninggalkan kesan mendalam baginya. Ia merasa mendapatkan bekal baru untuk memberikan layanan BK yang lebih relevan, menarik, dan bermanfaat bagi siswa.
Selama ini, Siti merasa bahwa layanan BK sering dianggap sebelah mata oleh sebagian peserta didik. Tidak jarang, siswa merasa bosan atau kurang tertarik ketika mengikuti sesi bimbingan. Namun, setelah memahami konsep-konsep baru dari diklat, ia sadar bahwa perubahan cara pandang guru sangat menentukan. BK seharusnya bukan hanya formalitas, melainkan ruang bagi siswa untuk memahami dirinya, mengembangkan potensi, serta menemukan solusi atas masalah yang dihadapi.
Salah satu strategi yang kini mulai diterapkannya adalah pembelajaran berdiferensiasi dalam layanan BK. Siti memahami bahwa setiap siswa memiliki karakteristik unik, baik dari segi minat, bakat, maupun gaya belajar. Oleh karena itu, ia tidak lagi memberikan layanan secara seragam, melainkan menyesuaikan pendekatan dengan kebutuhan. Untuk siswa yang lebih nyaman belajar visual, ia menyiapkan infografis dan video; sementara untuk siswa yang lebih komunikatif, ia memberi ruang diskusi terbuka. Pendekatan ini membuat siswa merasa lebih dihargai.
Selain itu, Siti juga mulai memanfaatkan teknologi. Dengan menggunakan Google Form, ia bisa mengumpulkan data kebutuhan siswa dengan cepat. Canva digunakan untuk membuat media grafis yang menarik, sedangkan video interaktif menjadi sarana efektif untuk menjelaskan topik-topik sensitif seperti perundungan, motivasi belajar, hingga kesehatan mental. Pemanfaatan media ini terbukti mampu menarik perhatian siswa, yang sebelumnya sering terlihat pasif.
Tidak hanya teknologi, Siti juga mengembangkan pembelajaran kolaboratif. Dalam beberapa kesempatan, ia mengajak siswa untuk melakukan role play atau bermain peran, misalnya dalam simulasi menghadapi tekanan teman sebaya. Ia juga membuat forum refleksi di mana siswa bisa saling berbagi pengalaman dan dukungan. Aktivitas-aktivitas ini membuat suasana layanan BK menjadi lebih hidup dan bermakna.
Tentu, perjalanan ini tidak tanpa hambatan. Tantangan terbesar adalah keterbatasan sarana prasarana, terutama akses perangkat teknologi yang tidak selalu tersedia. Selain itu, tidak semua pihak memahami pentingnya pembaharuan dalam layanan BK, sehingga dukungan dari lingkungan sekitar kadang kurang optimal. Namun, Siti tetap berkomitmen. Ia percaya, dengan kreativitas, hambatan bisa disiasati. Misalnya, jika proyektor tidak tersedia, ia mencetak poster atau leaflet sebagai alternatif media.
Menurut Siti, materi tentang pembelajaran inklusif dalam diklat adalah yang paling berkesan. Ia semakin sadar bahwa guru BK harus hadir sebagai pendamping yang peka terhadap keberagaman siswa, baik dari segi kemampuan, latar belakang, maupun kondisi sosial-emosional. Kesadaran ini membuatnya lebih sabar, lebih empatik, dan lebih terstruktur dalam menyusun rencana layanan.
Kini, perubahan positif mulai terlihat. Siswa yang biasanya pasif kini mulai berani bertanya dan bercerita. Suasana kelas bimbingan lebih kondusif, penuh interaksi, dan tidak lagi membosankan. Bagi Siti, ini adalah awal dari perjalanan panjang untuk menjadikan layanan BK sebagai ruang inklusif yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh siswa.
Dari pengalaman ini, ia menyimpulkan bahwa keberhasilan layanan BK bukan hanya soal metode, tetapi juga soal kemauan guru untuk terus belajar dan beradaptasi. Dengan semangat baru, Siti Jum’ati siap menjadi guru BK yang lebih inovatif, inspiratif, dan bermakna bagi siswanya.