Priyono Widodo, S. Sos., Gr, seorang guru di SMP Negeri 3 Nuhon, telah mencoba menerapkan pembelajaran mendalam dengan pendekatan yang lebih holistik di kelasnya. Bagi beliau, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan sebuah upaya membangun pemahaman yang utuh dan menyeluruh pada diri peserta didik. Dengan pemikiran inilah, ia berusaha untuk mengintegrasikan kurikulum mendalam dalam proses belajar mengajar sehari-hari.
Salah satu hal yang menurut Priyono paling menarik dalam kurikulum ini adalah bagaimana cara guru melakukan pendekatan kepada siswa. Pembelajaran mendalam tidak hanya berfokus pada pencapaian kognitif, tetapi juga menyentuh ranah afektif dan psikomotorik. Hal ini berarti guru harus lebih dekat dengan siswa, memahami kebutuhan mereka, serta mengarahkan mereka untuk belajar secara aktif dan bermakna. Ia percaya bahwa seorang guru yang mampu membangun kedekatan emosional dengan peserta didik akan lebih mudah menanamkan nilai dan pengetahuan yang bertahan lama.
Namun, dalam praktiknya tentu tidak lepas dari tantangan. Priyono mengakui bahwa keberagaman peserta didik menjadi salah satu kendala terbesar. Siswa datang dengan latar belakang, karakter, dan kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang cepat tanggap, ada pula yang membutuhkan perhatian lebih. Menghadapi kondisi seperti ini, ia dituntut untuk terus berinovasi, mencari metode yang sesuai agar semua siswa tetap bisa mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Bagi Priyono, keberagaman bukanlah hambatan, melainkan peluang untuk menciptakan suasana kelas yang lebih dinamis.
Melalui penerapan pembelajaran mendalam, Priyono merasa memperoleh banyak wawasan baru. Ia menyadari bahwa menjadi seorang pendidik berarti harus selalu siap belajar, tidak hanya dari teori, tetapi juga dari pengalaman nyata di lapangan. Interaksi dengan siswa memberikan banyak pelajaran berharga, terutama tentang bagaimana mengelola kelas, membangkitkan motivasi belajar, dan menciptakan strategi yang mampu mengakomodasi kebutuhan berbeda setiap individu.
Lebih jauh lagi, Priyono melihat bahwa pembelajaran mendalam memberikan arah baru bagi perannya sebagai guru. Ia tidak lagi hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing. Baginya, peran ini sangat penting untuk membentuk siswa yang tidak sekadar cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, serta beradaptasi dengan berbagai tantangan di masa depan.
Testimoni Priyono mencerminkan dedikasi seorang pendidik yang berusaha keras untuk menghadirkan kualitas pembelajaran yang lebih bermakna. Meski tantangan masih ada, semangatnya untuk terus belajar dan mengembangkan diri menjadi bukti nyata bahwa guru adalah pembelajar sepanjang hayat. Dengan pendekatan holistik yang ia terapkan, diharapkan siswa di SMP Negeri 3 Nuhon tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga pengalaman belajar yang bisa mereka bawa sepanjang kehidupan.