Asmaul Husna, S.Pd, seorang pendidik di MIN 12 Aceh Utara, membagikan pengalamannya dalam menekuni dunia pendidikan yang penuh makna. Bagi dirinya, mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan menghadirkan rasa cinta dalam setiap proses pembelajaran. Itulah prinsip yang selalu ia pegang teguh: bahwa ilmu akan lebih mudah diterima jika ditanamkan dengan penuh ketulusan dan kasih sayang.
Dalam testimoninya, Asmaul Husna menyampaikan bahwa segala sesuatu dalam pendidikan bermula dari niat yang baik. Ia percaya, dengan niat ikhlas serta rasa cinta terhadap profesi guru dan peserta didik, setiap langkah yang diambil akan membawa keberkahan. Baginya, rasa cinta adalah pondasi yang membuat seorang pendidik lebih sabar, lebih tekun, dan lebih kuat menghadapi tantangan. Tanpa cinta, kegiatan mengajar bisa terasa kering dan sekadar rutinitas belaka.
Ia menggambarkan bahwa suasana kelas yang aman dan nyaman merupakan hal penting dalam menunjang keberhasilan belajar. Ketika guru mampu menciptakan suasana penuh cinta dan kehangatan, maka murid akan merasa aman untuk belajar, berpendapat, maupun mengungkapkan ide-idenya. Rasa aman inilah yang kemudian membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna, karena siswa tidak hanya belajar materi, tetapi juga belajar tentang sikap saling menghargai dan peduli.
Menurut Asmaul Husna, ilmu yang ia dapatkan dari berbagai pelatihan dan pengalaman mengajar sangat bermanfaat, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk murid-muridnya. Ia menilai bahwa setiap tambahan wawasan yang diterima adalah bekal untuk menciptakan pembelajaran yang lebih efektif. Bagi Asmaul, manfaat ilmu bukan hanya terlihat dari meningkatnya pemahaman siswa, tetapi juga dari tumbuhnya karakter positif yang mereka tunjukkan di kelas maupun di luar sekolah.
Meski menyadari banyak tantangan dalam dunia pendidikan, mulai dari keterbatasan fasilitas hingga perbedaan karakter siswa, Asmaul Husna memilih untuk selalu fokus pada hal-hal positif. Baginya, setiap hambatan bisa dilalui dengan kesabaran dan semangat belajar yang tidak pernah padam. Ia menekankan bahwa guru juga harus terus mengembangkan diri, karena pendidikan adalah proses yang dinamis dan selalu bergerak mengikuti perkembangan zaman.
Testimoni Asmaul Husna mencerminkan gambaran seorang guru yang menempatkan cinta sebagai inti dari pekerjaannya. Cinta kepada ilmu, cinta kepada murid, dan cinta kepada profesi membuatnya selalu termotivasi untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna. Dengan demikian, tujuan pendidikan tidak hanya sebatas transfer pengetahuan, tetapi juga membentuk generasi yang berakhlak mulia dan siap menghadapi tantangan kehidupan.
Melalui pengalamannya, Asmaul Husna berpesan bahwa seorang guru tidak boleh lelah menebar manfaat. Setiap ilmu yang ditanamkan dengan cinta akan berbuah pada masa depan. Dengan keyakinan itu, ia melangkah mantap dalam perjalanan pendidikannya, terus menebarkan cahaya ilmu yang bermanfaat bagi siswa, sekolah, dan lingkungannya.